Letnan Jenderal TNI Agus Sutomo Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI

Perang Saudara Adalah Skenario Asing Untuk Kehancuran Indonesia

Kendari (korem143.kodam14hasanuddin-tniad.mil.id) – “Pihak asing memiliki skenario menjadikan Indonesia sebagai front perang saudara, kerusuhan ataupun konflik horisontal sebagaimana yang terjadi di Suriah, dalam kaca mata inteligen, secara geopolitik dan geostrategi Indonesia saat ini telah masuk dalam skenario mereka (Kekuatan Asing- red) yang dibuat secara sistematis ibarat lingkar obat nyamuk dengan terus melakukan proxy war untuk melemahkan Ketahanan Nasional Indonesia dari masa kemasa secara bertahap dan halus.

“Pelemahan sistem pertahanan kita itu meliputi semua bidang, mulai dari ekonomi, politik, hukum, peraturan perundangan, sejarah, media informasi, pergeseran watak prilaku bangsa, gaya hidup, institusi pemerintah, termasuk pelemahan TNI baik secara fungsi dan wewenang” Demikian di sampaikan oleh Dan Sesko TNI Letjen TNI Agoes Sutomo dalam memoarnya yang dibuat di Batam, Kamis (29/12/2016).

Letjen TNI Agoes Sutomo mengatakan pelemahan sistem pertahanan tersebut dilakukan melalui operasi inteligent secara masive dan terstruktur. “Ada user yakni (State /non state) ataupun negara/kelompok elit. Ada Agent Handle, di bawahnya Agent Action di bawahnya lagi Informan berlapis” papar mantan Dan Kopassus tersebut.

Dikatakannya , tiap struktur dan bahagian itu bergerak menurut tupoksinya masing masing. Bahkan pergerakan diantara sesama merekapun tidak saling mengenal dan yang mengetahui hal itu hanya Sang User. Lanjutnya, mereka di bayar dan diberi pelatihan untuk melakukan operasi seperti operasi cipta kondisi bahkan sabotase dengan bantuan dana tanpa batas serta dukungan power politik yang kuat.

“Masing-masing Agent ini masuk melebur ke dalam sendi- sendi kehidupan bernegara kita. Ada yang masuk dan menjadi tokoh negarawan, dosen, pengamat, pejabat publik, institusi pemerintahan baik di Eksecutive, legislatif ataupun yudicative, dunia perbankan, dunia perfilman, bahkan sampai ke istana dan tubuh TNI-Polri sekalipun” imbuhnya.

Dijelaskannya, fungsi Agent Handle sebagai pengendali, Agent Action sebagai eksekutor dan Informan sebagai pengumpul informasi di lapangan. Masing-masing agent bergerak secara profesional seperti ada yang bergerak sebagai pendukung, kontra, dan pihak ke tiga dari pemerintahan.

“Semua bergerak dalam rangka mengamankan setiap kepentingan Usernya di Indonesia. Salah satu contoh yang marak sekarang adalah bagimana merekayasa terjadi gejolak kerusuhan di Indonesia” kata mantan Pangdam Jaya itu.

Lebih jauh dia mengatakan untuk menciptakan gejolak, masing-masing Agent bergerak untuk menanamkan rasa saling benci, saling curiga, saling buruk sangka, di antara sesama anak bangsa, baik antar suku, antar agama, antar ormas, antar ulama antar pengamat, antar kampus, antar parpol, antar tokoh bangsa termasuk antar institusi.

“Kita semua seolah di paksa dan di giring kepada satu titik yaitu perang. Sekecil apapun masalah akan diperuncing dan diprovokasi secara timbal balik” ujar mantan Dankodiklat TNI-AD itu.

Kata dia, tujuan mereka adalah menjadikan anak bangsa menjadi bangsa yang sinis, egois, ambisius, sadis, anti kebersamaan sekaligus menjauhkan anak bangsa Indonesia dari sifat asli dan karakter bangsa Indonesia seperti: pejuang, militan, pemberani, kuat, kompak, suka bermusyawarah dan gotong royong. Dia pun mengingatkan kepada seluruh anak bangsa bahwa jika ada kejadian disekitar kita yang diluar kewajaran itu adalah salah satu bentuk hasil kerja para agent tersebut.

“Perang saudara adalah hal yang sangat di inginkan User asing terhadap Indonesia. Agar kita akhirnya terpecah belah, hancur lebur, lemah untuk kemudian mereka kuasai bahkan menjajah” jelasnya.

Oleh karena itu kata dia bangsa Indonesia harus kembali mengenal jati dirinya dan menjadikan dirinya sebagai orang Indonesia. Menurutnya hal itu dibutuhkan kesadaran kolektif senasib satu bangsa dan satu rasa cinta tanah air. “Tak ada pandang SARA karena kita adalah sebuah bangsa yang kuat dan bersaudara” tegasnya.

Dia berharap agar bangsa Indoneaia tidak mau terpancing untuk menjadi “Tidak Waras” (Sesuai keinginan User red), untuk memiliki keinginan saling bunuh, saling memerangi, saling menghabisi antar sesama anak bangsa. “Kalau ada persoalan politik diselesaikan dengan cara politik yang moderat” harapnya.

Karena kalau Indonesia pecah perang saudara, banyak negara sekitar kita yang tepuk tangan dan bahagia. Dia menambahkan, konstitusi bangsa Indonesia tidak ada lagi yang sebaik UUD 1945 dan Pancasila yang dibuat oleh para Founding Father melalui sebuah perenungan, pemikiran, dan penghayatan yang sangat dalam sesuai dengan kondisi bangsa.

“Ikat kembali rasa persatuan sesama anak bangsa. Bunuh segala bentuk skenario para User tersebut dengan tidak mudah terpancing, dan justru merekat kembali rasa persaudaraan” katanya. Dia berpesan agar pemuda-pemuda idealis dan nasionalis bersatu untuk berjuang mengambil peran dan posisi strategis negara guna melakukan perbaikan moral dan cita cita bangsa.

“Percayalah TNI tetap solid dan setia terhadap NKRI. Bersama Rakyat TNI Kuat. TNI tahu kapan saat yang tepat untuk mengambil sebuah keputusan disaat negara genting” pungkasnya. (Penrem143).

About Penrem 143/HO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.